Selasa, 12 Agustus 2014

Fotografi Panggung

Sebelum mencoba stage photography, pastikan bahwa dSLR dan lensa yang sempurna tersedia dalam kit profesional Anda. Selain itu, pencahayaan yang kuat dan tripod harus hadir setiap saat. Untuk awal mungkin akan tampak rumit digunakan untuk memotret konser Jon Bon Jovi, atau The Phantom of the Opera, namun hasilnya akan sepadan dengan usaha Anda.
Aperture dan shutter speed sangat penting untuk dipertimbangkan dalam hal ini kecuali dSLR yang Anda gunakan memiliki pengaturan otomatis, dan dapat menyesuaikan flash brightness pada jumlah cahaya dalam hitungan detik. Setiap konser satu dengan yang lainnya pasti memiliki perbedaan dimulai dari desain panggung, strobo, dan pencahayaan background yang dapat berubah-ubah secara cepat ketika acara berlangsung. Untuk itu, bawalah buku atau notepad dan pastikan untuk membuat catatan pada masing-masing setting, aperture, shutter speed, dan zoom lensa yang bekerja baik saat pemotretan.
Jika kamera dSLR Anda memiliki preset setting, coba pergunakan Sport setting. Setting-an  ini digunakan untuk menangkap gerakan yang cepat, dan sebagian besar setting ini memiliki shutter speed otomatis dan penyesuaian aperture untuk memastikan bahwa efek pencahayaan yang sempurna tertangkap. Salah satu setting terhebat yang pernah dibuat adalah setting smile atau setting face. Pengaturan ini akan mendeteksi gambar paling penting dalam sebuah gambar, biasanya wajah manusia, dan membuat titik fokus sehingga gambar ekspresi wajah yang spektakuler, detail pakaian, dan cara cahaya memainkan dari wajah tokoh idola kita dapat tertangkat dengan bagus.

Tips Memotret Air Terjun

Memotret landscape air terjun memang menyenangkan. Dengan menggunakan tehnik “slow speed” (SS), akan menghasilkan gambar yang indah memukau. Aliran air akan tampak halus, lembut dan putih bagaikan kapas. Batu-batu yang ada di sekitar air terjun dan hijau pepohonan akan menciptakan komposisi foto yang mengagumkan.  

1. Waktu yang Tepat
Waktu yang terbaik untuk memotret air terjun adalah sesudah hujan turun. Ini akan membuat aliran air sungai deras dan air hujan juga biasanya akan membantu saturasi warna dedaunan di pohon atau batu-batuan yang akan membuat warna hijau menjadi indah cemerlang.
2. Datanglah Lebih Awal
Air terjun banyak diminati khalayak ramai sebagai tempat rekreasi, dan tentu saja akan menyulitkan untuk mendapatkan foto yang bagus. Oleh karena itu sebaiknya datanglah lebih awal sebelum orang-orang mulai banyak berdatangan. Ini juga akan membantu anda mendapatkan spot yang bagus. Bila hal ini tidak dapat dihindari, cobalah menunggu beberapa saat sampai pada waktu kerumunan manusia berkurang. Anda dapat melakukan crop untuk menghilangkan orang yang ada di foto anda. Sebaiknya memotret air terjun sebelum jam 10 pagi, selain cahaya matahari belum terlalu keras dan orang-orang juga belum banyak yang datang.
3. Foreground” sebagai POI (point of interest)
Cara lain untuk membuat foto air terjun menjadi lebih menarik adalah menambahkan sesuatu  di foreground sebagai point of interest. Daun berwarna kuning pada foto dibawah ini menjadi point of interest. Secara tidak sengaja pada saat saya mengambil foto ini saya melihat sehelai daun jatuh tepat diatas batu dan saya jadikan sebagai point of interest untuk foto tersebut. Lihatlah disekeliling anda dan coba ambil beberapa angle untuk melihat hal-hal yang menarik untuk dijadikan komposisi foto.
4. Berhati-hati
Tentunya anda tidak ingin jatuh terselip dan terluka, ataupun kamera anda menjadi rusak karenanya. Pastikan anda mempunyai tripod yang kokoh dan sesuai untuk menopang beratnya kamera. Gunakan cover anti air untuk melindungi kamera dan sediakan kain lap untuk selalu membersihkan lensa dari cipratan air.

Matrix Metering, Center Weight, Spot Metering

Multi Segment | Evaluative | Matrix Metering
Pada mode metering yang pertama, yaitu multi segment/evaluative/matrix metering, kamera
menentukan eksposure berdasarkan perata-rataan pengukuran cahaya di seluruh bidang
foto. Caranya, sensor pada modul light meter dibagi ke dalam beberapa area kecil lantas
kamera mengukur intensitas cahaya di tiap-tiap area tadi. Selanjutnya kamera akan
mengkalkulasi rata-rata dari intensitas cahaya dan menentukan eksposure yang sesuai.
Inilah mode yang dianggap paling memberikan eksposure yang paling tepat dan punya
akurasi yang tinggi.
Pada mode ini, semakin banyak area yang menjadi referensi pengukuran maka akan
semakin presisi hasil perhitungannya, dan semakin kecil resiko metering kamera meleset.
Mode ini jadi mode ‘default’ untuk kebanyakan situasi pemotretan dan bisa diandalkan
untuk dipakai sehari-hari. Masalahnya, ada situasi dimana mode ini bisa tertipu, seperti saat
ada cahaya yang lebih terang diluar objek foto dan bisa mengacaukan kalkulasi kamera.

Center Weight
Di mode kedua, yaitu center weight, kamera masih mengandalkan pengukuran dari banyak
area sensor namun lebih memprioritaskan pengukuran pada bidang tengah foto dan
cenderung mengabaikan intensitas cahaya di luar area tengah itu. Dengan memakai mode
metering ini, area tengah yang umumnya jadi subjek foto, bisa mendapat eksposure yang
lebih tepat. Mode ini cocok untuk potret wajah atau kebutuhan lain yang memang
mementingkan eksposure yang tepat pada bagian tengah foto. Namun untuk foto landscape,
mode ini kurang cocok karena pada foto landscape tiap bagian pada foto punya arti yang
sama pentingnya.

Spot Metering
Di mode ketiga yang bernama spot metering ini kamera hanya mengukur cahaya pada
sebidang titik kecil (sekitar 5% dari bidang foto) dan akan mengabaikan 95% area selain
titik tadi. Mode ini berguna untuk memotret di tempat yang pencahayaannya amat
kompleks dimana bila tidak memakai mode spot maka tidak akan didapat eksposure yang
sesuai. Pada kamera DSLR, spot meter bisa disinkronkan dengan titik AF yang ada
sehingga kamera akan mengukur spot meter pada titik AF yang dipilih (tidak selalu harus
ditengah).
Kasus yang umum membutuhkan kita untuk memakai spot meter adalah saat keseluruhan
bidang foto lebih terang atau lebih gelap dari objek yang akan difoto. Namun bila salah
memakai mode ini, foto yang dihasilkan bisa jadi terlalu terang atau gelap, maka itu perlu
banyak berlatih.
Perlu diingat bahwa nilai eksposure tidak ada standar pasti. Kita hanya mengandalkan mata
untuk menilai apakah foto yang dihasilkan sudah memiliki eksposure yang tepat (kadang
foto yang agak gelap atau agak terang tidak berarti foto itu gagal). Bila menurut kita
ternyata foto yang dihasilkan oleh kamera belum sesuai dengan keinginan, bisa
dikompensasikan dengan kompensasi eksposure (Ev) ke arah negatif (lebih gelap) atau
positif (lebih terang). Bisa juga bermain kuncian eksposure (exposure lock), bila kita ingin
berkreasi lebih kreatif lagi.
Selamat berkarya dan semoga bermanfaat!

Tips Memilih Mode Metering Kamera Digital


Evaluative/Matrix, Center Weight atau Spot Metering?

Banyak dari kita yang masih belum mantap dalam memilih mode metering yang kita
gunakan saat memotret. Padahal mode metering adalah fitur standar dari kamera digital,
bahkan hingga kamera ponsel modern pun kini sudah menyediakan fitur ini. Kali ini saya
coba membuat tulisan soal tips memilih mode metering yang tepat, dengan harapan kita
bisa mendapat foto dengan eksposure yang baik di setiap kondisi pencahayaan.
Fotografi adalah bermain dengan cahaya, dimana kendali akan cahaya ditentukan dari tiga
komponen eksposure yaitu shutter, aperture dan ISO. Dalam menentukan nilai eksposure
ini, kamera mengukur intensitas cahaya yang masuk melalui lensa dan proses ini
dinamakan dengan istilah metering.

Pada prinsipnya kamera akan berupaya menjaga eksposure yang pas dimana foto yang
dihasilkan memiliki area gelap (shadow), area tengah/grey (midtone) dan area terang
(highlight) yang berimbang. Tidak seperti mata manusia, sensor pada kamera digital (atau
film pada kamera analog) punya rentang sensitivitas terhadap cahaya yang tidak terlalu
lebar sehingga ada saja kasus dimana kamera gagal mereproduksi kondisi aktual di
lapangan dalam sebuah foto. Contoh yang paling mudah ditemui adalah terjadinya highlight
clipping atau area terang yang detailnya sudah hilang dan ini sering dijumpai pada foto
dengan kontras tinggi. Sebaliknya, sebuah foto bisa dikatakan tidak tepat eksposurenya bila
banyak area shadow yang terlalu gelap sehingga bisa dibilang under-eksposure.
Pilihan mode metering disediakan untuk mengakomodir berbagai kondisi pemotretan yang
pasti punya banyak variasi pencahayaan, mulai dari siang terik, kontras tinggi hingga
tempat yang kurang cahaya. Pilihan mode yang umum dijumpai pada kebanyakan kamera
digital